Minyak Goreng Curah Dilarang Beredar - Pelarangan Berlaku 1 Januari 2022

Koran SINDO - athika rahme/advenia elisabeth.

JAKARTA Kementerian Perdagangan (Kemendag) melarang penjualan minyak goreng curah akan diterapkan mulai 1 Januari tahun 2022. Dengan demikian, hanya minyak goreng kemasan saja yang diizinkan beredar di pasaran. 
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan, kebijakan tersebut ditetapkan karena harga minyak goreng curah sangat mudah terdampak ketika ada kenaikan harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO). 'Untuk ini pemerintah mengantisipasi dengan mewajibkan peredaran minyak goreng kemasan. Tidak diizinkan lagi minyak goreng yang diedarkan dalam keadaan curah, mulai Januari 2022," ujar Oke dalam webinar yang digelar indef kemarin. Berbeda dengan minyak goreng curah, minyak goreng kemasan harganya relatif terkendali karena bisa diproduksi terlebilih dulu dan disimpan dalam jangka panjang. Meskipun ada kenaikan harga CPO, dampaknya tidak akan langsung terasa ke konsumen. "Ini tinggal dua negara, sepengetahuan saya, yang masih mengedarkan minyak goreng curah, yaitu Bangladesh dan Indonesia," sebutnya. Untuk itu, pernerintah akan memastikan ketersediaan minyak goreng dalam negeri untuk menjamin kebutuhan masyarakat. 'Saat ini tersedia 628.000 ton dan cukup untuk memasok 1,5 bulan kebutuhan. Ini akan kami coba setiap waktunya sehingga kita aman terus," jaminnya. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga sangat setuju dengan regulasi tersebut. Dia mengatakan sejak Juni 2021 yang lalu GIMNI sudah meminta Kemendag untuk bisa tegas menghentikan perdaran minyak curah di pasaran. "Kami setuju banget kalau minyak goreng curah distop peredarannya," kata Sahat saat dihubungi MNCPortal Indonesia kemarin. Juni 2021 lalu, kata Sahat, GIMNI sudah mengirim surat kepada Kemendag supaya regulasi yang dicetuskan sejak 2019 mengenai penyetopan peredaran minyakgoreng curah menjadi minyak goreng kemasan bisa dijalankan. "Jangan lagi mundur-mundur," desaknya. Permohonan penghentian peredaran minyak goreng curah sudah digaungkan sejak 2010 silam saat Mari Elka Pangestu menjabat sebagai Menteri Perdagangan (Mendag). Namun, regulasi tersebut terus maju mundur hingga masa kepemimpinan Mendag Muhammad Lutfi saat ini (2021). "Sudah sejak Bu Mari (Elka Pangestu) 2010 penyetopan peredaran minyak goreng curah ini belum diimplementasikan. Waktu zaman-nya Pak Enggartiasto Lukita tahun 2019 kemarin sudah mau diubah ke minyak goreng kemasan, tapi malah dilarang. Sekarang di zamannya Pak Lutfi mulai lagi. Berarti kan sudah 11 tahun regulasi ini maju mundur," paparnya. Karena itu, Sahat berharap pernohonan GIMNI atas regulasi penyetopan peredaran minyak goreng curah bisa sungguh-sungguh diimplementasikan pada 1 Januari 2022. Hal itubukan tanpa alasan,sebab minyak goreng kemasan jauh lebih sehat dan higienis dibanding minyak goreng curah. Menurut Sahat, pengolahan minyak goreng curah banyak yang berasal dari minyak jelantah, di mana minyak tersebut tidak balk untuk kesehatan manusia. Sebagai informasi, wacana pemerintah melarang minyak goreng curah sudah lama bergulir, lebih dari lima tahun lalu. Namun, penerapannya berkali-kali tertunda karena terken dala berbagai hal. Adapun saat ini aturannya merujuk kepada Permendag Nomor 36/2020 tentang Minyak Goreng Sawit Wajib Kemasan. Merujuk pada aturan tersebut, produsen, pengemas, dan/atau pelaku usaha yang memperdagangkan minyak goreng sawit kepada konsurnen wajib memperdagangkan minyak goreng sawit dengan menggunakan kemasan. Naik Terus - Pada kesempatan itu Oke Nurwan memprediksi kenaikan harga minyak goreng masih berlanjut hingga kuartal 1/2022. Hal ini disebabkan menurunnya produksi minyak sawit di beberapa negara pemasok, Oke menyebutkan, minyak sawit mentah rnerupakan salah satu komoditas yang mengalami supercycle atau kenaikan harga dalam kurun waktu yang lama , "Ini berpotensi untuk terus bergerak, bahkan kita sudah prediksi sampai kuartal 1/2022 masih meningkat terus karena termasuk kmoditas yang supercycle. Ini kemungkinan beranjak naik terus," tuturnya. Oke menjabarkan, penurunan produksi minyak sawit sudah terjadi di Malaysia dengan persentase 8%. Lalu produksi dari Kanada, sebagai pemasok minyak canola, juga turun 6%. "Kemungkinan produksi CPO Indonesia akan turun dari target 49 juta ton menjadi 47 juta ton," sebutnya. Ditambah lagi saat ini terdapat krisis energi dari beberapa negara seperti India, China, dan negara-negara di Eropa. Harga minyak goreng jadi sernakin melambung lantaran produsen minyak goreng di Indonesia belum terafiliasi dengan kebun sawit sehingga mereka terlalu mengandalkan harga CPO secara global. Untuk itu, kata Oke, pemerintah berkomitmen menjaga ketersediaan dan harga minyak goreng agar tidak memberatkan masyarakat, salah satunya dengan menggelontorkan stok minyak goreng kemasan yang dibanderol Rp14,000 per liter. "Kami sudah bicara dengan produsen, khusus untuk Natal dan Tahun Baru, produsen sudah menyiapkan minyak goreng kemasan sederhana seharga Rp 14.000 dan akan didistribusikan melalui ritel modern. Ini disiapkan sebanyak 11 juta liter," bebernya.